+62 817-4929-054
Mengenal SIS, Teknologi Terapi Elektromagnetik untuk Mendukung Proses Rehabilitasi
Oleh: dr. Natalia Loekito, Sp.KFR

Dalam proses pemulihan setelah cedera, gangguan otot, nyeri, maupun kondisi neurologis tertentu, rehabilitasi menjadi bagian penting untuk membantu pasien kembali beraktivitas secara optimal. Seiring perkembangan teknologi di bidang kedokteran dan fisioterapi, kini tersedia berbagai modalitas terapi yang dapat mendukung proses rehabilitasi, salah satunya adalah Super Inductive System (SIS).
SIS merupakan terapi berbasis medan elektromagnetik intensitas tinggi hingga 2,5 Tesla yang memungkinkan energi mencapai jaringan hingga sekitar 10 cm. Teknologi ini dapat digunakan untuk menstimulasi jaringan seperti otot, saraf, dan area di sekitar sendi.
Berbeda dengan beberapa modalitas terapi yang menggunakan elektroda, SIS bekerja tanpa kontak langsung dengan kulit. Dengan demikian, pasien tidak memerlukan elektroda yang ditempelkan pada tubuh selama terapi. Pada kondisi tertentu, terapi juga dapat dilakukan pada pasien yang masih menggunakan gips akibat patah tulang, tentunya berdasarkan evaluasi dan pertimbangan tenaga medis.
Terapi Tanpa Kontak dengan Berbagai Pilihan Frekuensi
Salah satu keunggulan SIS adalah kemampuan untuk menyesuaikan frekuensi terapi, dengan rentang 1–150 Hz, sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pasien. Pengaturan tersebut dapat digunakan dalam berbagai program terapi, termasuk membantu pengelolaan nyeri maupun stimulasi otot.
SIS juga dilengkapi dengan six-joint arm, yaitu lengan aplikator yang fleksibel sehingga memungkinkan tenaga medis mengarahkan terapi ke berbagai area tubuh. Fleksibilitas ini dapat membantu menjangkau area tertentu yang lebih sulit ditangani dengan modalitas terapi lainnya.
Mendukung Pengelolaan Nyeri
Nyeri merupakan salah satu keluhan yang cukup sering ditemukan dalam proses rehabilitasi. SIS dapat menjadi salah satu modalitas yang digunakan untuk membantu mengelola berbagai jenis nyeri, mulai dari nyeri akut, subakut, hingga kronis.
Terapi ini dapat digunakan sebagai bagian dari program penanganan pada kondisi seperti osteoarthritis, impingement syndrome, carpal tunnel syndrome (CTS), HNP, maupun muscle strain.
Namun, penggunaan SIS tetap perlu disesuaikan dengan diagnosis dan kondisi masing-masing pasien. Terapi tidak berdiri sendiri, melainkan dapat menjadi bagian dari program rehabilitasi yang lebih komprehensif.
Membantu Stimulasi dan Penguatan Otot
Selain untuk membantu pengelolaan nyeri, SIS juga dapat dimanfaatkan untuk myostimulation atau stimulasi otot.
Stimulasi tersebut dapat membantu mendukung penguatan otot, membantu mencegah atrofi otot, membantu relaksasi otot, serta mengurangi keluhan yang berkaitan dengan muscle spasm.
Dalam kondisi tertentu, stimulasi juga dapat diarahkan pada otot diafragma untuk mendukung kapasitas fungsional paru maupun pada otot abdomen untuk membantu kemampuan batuk. Pemanfaatannya tentu perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan pasien.
Mendukung Pemulihan pada Gangguan Gerak dan Neurologis
SIS juga dapat digunakan sebagai bagian dari program rehabilitasi untuk membantu meningkatkan fungsi gerak.
Kontraksi otot secara berulang di sekitar sendi dapat membantu mendukung proses mobilisasi dan pemulihan joint play. Terapi juga dapat dikombinasikan dengan latihan fisik sesuai program yang diberikan oleh dokter atau fisioterapis.
Pada kondisi neurologis tertentu, seperti stroke dan cerebral palsy, SIS dapat digunakan sebagai salah satu modalitas dalam program rehabilitasi untuk membantu mengurangi spastisitas dan mendukung pengaturan tonus otot.
Bagaimana dengan Efek yang Dirasakan Pasien?
Pada sebagian pasien, efek terapi dapat dirasakan setelah sesi terapi. Salah satu penelitian yang menjadi rujukan melaporkan bahwa sekitar 62% pasien mengalami efek yang dapat dirasakan secara langsung setelah terapi.
Meski demikian, respons terhadap terapi dapat berbeda pada setiap individu. Hasil yang diperoleh dapat dipengaruhi oleh kondisi pasien, diagnosis, tingkat keparahan masalah, serta kombinasi terapi dan latihan yang diberikan.
Karena itu, keberhasilan rehabilitasi tidak hanya bergantung pada satu modalitas terapi, tetapi pada program rehabilitasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien.
Tidak Semua Pasien Dapat Menjalani Terapi SIS
Meskipun memiliki berbagai manfaat dalam rehabilitasi, SIS tidak dapat diberikan kepada semua pasien. Beberapa kondisi, seperti penggunaan pacemaker atau implan medis tertentu, kehamilan, kondisi kanker tertentu, serta area dengan lempeng pertumbuhan yang masih aktif, perlu menjadi perhatian sebelum terapi dilakukan.
Kondisi akut tertentu atau demam juga perlu mendapatkan evaluasi terlebih dahulu.
Oleh karena itu, sebelum menjalani terapi SIS, pasien perlu menjalani konsultasi dan evaluasi oleh dokter atau tenaga medis untuk memastikan terapi aman dan sesuai dengan kondisi yang dimiliki.
Teknologi untuk Mendukung Perjalanan Pemulihan
Perkembangan teknologi dalam bidang rehabilitasi memberikan semakin banyak pilihan bagi pasien untuk mendukung proses pemulihan. Dengan teknologi medan elektromagnetik intensitas tinggi, terapi tanpa kontak, serta berbagai pilihan aplikasi, SIS dapat menjadi salah satu modalitas yang mendukung pengelolaan nyeri, stimulasi otot, dan pemulihan fungsi gerak.
Namun, setiap pasien memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Jika Anda mengalami nyeri, gangguan gerak, kelemahan otot, atau sedang menjalani proses pemulihan setelah cedera maupun kondisi tertentu, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau fisioterapis untuk mengetahui pilihan terapi yang paling sesuai.
Pemulihan yang optimal dimulai dari diagnosis yang tepat dan program rehabilitasi yang sesuai.
Hubungi Kami
Untuk informasi & buat janji temu Dokter
| Loading data... |
|---|


